Abu Abdullah Muhammad bin Battutah (bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة,
Abu Abdullah Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja
Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko.
Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi,
Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.
Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang
dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang
diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa
tahu kebenaran dari cerita tersebut.
Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat
haji -- ziarah ke Mekah.
Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000
kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).
Pada usia sekitar 21 tahun 4 bulan, ia menunaikan rukun iman kelima.
Perjalananya menuju ke Baitullah telah membawanya berpetualang dan
menjelajahi dunia. Ia mengarungi samudera dan menjelajah daratan demi
sebuah tujuan mulia. Sampai kemudian Ia melanjutkan perjalanannya hingga
melintasi sekitar 44 negara selama 30 tahun.
Rihlah Ibnu Batutoh,
inilah salah satu buku legendaris yang mengisahkan perjalanan seorang
petualang agung itu pada 1325 hingga 1354 M. Sejatinya, Rihlah bukanlah
judul buku, tetapi hanya menggambarkan sebuah genre (gaya sastra).
Judul asli dari buku yang ditulis Ibnu Batutah itu adalah
Tuhfat al-Nuzzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ’Aja’ib al-Asfar (Persembahan
Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing dan Perjalanan yang
Mengagumkan) ditulis oleh Ibnu Juzay, juru tulis Sultan Maroko, Abu
‘Inan. Karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa
sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris dan
Jerman.
Buku itu disusun menjadi sebuah perjalanan dunia yang
mengagumkan dengan mengaitkan berbagai peristiwa, waktu pengembaraan
serta catatan-catatan penting yang berisi berita dan peristiwa yang
dialami Ibnu Batutah selama pengembaraanya. Dalam karyanya tersebut,
Ibnu Batutah tidak mengumpulkan rujukan atau bahan-bahan dalam menunjang
tulisannya hanya mengisahkan pengalaman atau sejarah empiris negara
atau kota-kota yang pernah disinggahinya terutama yang menyangkut kultur
setempat. Pencapaian Ibnu Batutah yang luar biasa itu, konon dirampas
dan disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika, termasuk
Maroko.
Kisah Petualangan Ibnu Batutoh
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,
“Tuntutlah ilmu walaupun hingga ke negeri Cina”.
Islam memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan, hingga ke
tempat yang jauh sekalipun. Terinspirasi hadits itu, Ibnu Batutah pun
melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan
dengan membentuk konsep
Al-Rihlah fi talab al-’ilmi (Perjalanan untuk Mendapatkan Ilmu Pengetahuan).
Ibnu
Batutah menghabiskan umurnya hingga 30 tahun untuk berpetualang dari
satu negeri ke negeri lainnya. Hampir seluruh dunia telah dijelajahinya,
mulai dari Afrika Utara ke Timur Tengah, dari Persia ke India terus ke
Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan India. Kemudian dilanjutkan ke
arah Timur Laut menuju daratan China dan ke arah Barat hingga sampai ke
Spanyol.
Pengembaraannya itu ia lakukan antara musim haji yang
satu ke musim haji berikutnya. Ia menjadikan Makkah Al Mukaramah sebagai
awal berlayar dan sebagai tempat kembali berlabuh. Sungguh suatu
pengembaraan yang penuh kejadian penting dalam sejarah, sarat dengan
makna dan hikmah. Pengembaraan perdananya dimulai ketika menunaikan
ibadah haji yang pertama, tepat pada tanggal 14 Juni 1325. Ia bersama
jamaah Tanger lainnya menempuh keringnya hawa laut Mediterania di tengah
teriknya daratan berpasir Afrika Utara. Semuanya dilakukan hanya dengan
berjalan kaki.
Dalam perjumpaannya dengan banyak orang, Ibnu
Batutah senantiasa berusaha meningkatkan kualitas silaturahim dengan
mendekati orang-orang yang bisa diajak ber-mudzakarah serta berbagi ilmu
dan pengalaman. Ia sangat terinspirasi dengan hadits Nabi Saw.,
“Perumpamaan
teman yang saleh dan teman yang jahat adalah seperti orang yang membawa
minyak misik (harum) dan orang yang meniup bara api pandai besi. Orang
yang membawa minyak misik mungkin akan memberikannya kepadamu, atau
engkau akan membelinya atau engkau merasakan bau harum daripadanya.
Adapun peniup bara api pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu,
atau engkau akan merasakan bau yang busuk daripadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Tempat-tempat
yang disinggahi diceriterakannya secara lengkap dengan bahasa yang
indah, sehingga siapa yang membaca tulisan Ibnu Batutah atau
mendengarkannya berhasrat untuk mengunjunginya. Kemauannya yang kuat
untuk mengunjungi wilayah-wilayah Islam saat itu membawanya mengembara.
Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk,
yang relatif aman. Jalur yang umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan
Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh: pengembaraan
menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di 'Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.
Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus
(yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/anjuran
seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan
sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut -- Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya -- dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.
Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad.
Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah
melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia
kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya
adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran.Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).
Di sana ia bertemu Abu Sa'id,
pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara
bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.
Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji
kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani
pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia.
Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan
terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.
Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa,
dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia
bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah
menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.
Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.
Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.
Di Samudera Pasai (Aceh)
Petualangan
dan perjalanan panjang yang ditempuh Ibnu Batutah sempat membuatnya
terdampar di Samudera Pasai (kini Aceh). Tepatnya di sebuah Kerajaan
Islam pertama di Nusantara yang terletak di utara pantai Aceh antara
abad ke-13 hingga 15 M. dengan Raja pertamanya Sultan Malikussalih (W
1297), yang sekaligus sebagai sultan (pemimpin) pertama negeri itu. Ia
menginjakkan kakinya di Aceh pada tahun 1345. Sang pengembara itu
singgah di bumi Serambi Makkah selama 15 hari.
Catatan Ibnu
Batutah dalam perjalanan laut menuju Cina menyebutkan, Ia pernah mampir
di wilayah Samudera Pasai. Dalam catatan perjalanannya itu, Ibnu Batutah
melukiskan Samudera Pasai dengan begitu indah. ”Negeri yang hijau
dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,” tutur sang pengembara
berdecak kagum. Kedatangan penjelajah kondang asal Maroko itu mendapat
sambutan hangat dari para ulama dan pejabat Samudera Pasai.
Kedatangan
Ibnu Batutah disambut Amir (panglima) Daulasah, Qadi Syarif Amir Sayyir
Al-Syirazi, Tajuddin Al-Asbahani dan beberapa ahli fiqh atas perintah
Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Menurut pengamatan Ibnu Batutah,
Sultan Mahmud merupakan penganut Mazhab Syafi’i yang giat
menyelenggarakan pengajian dan
mudzakarah tentang Islam.
Penjelajah
termasyhur asal Maghrib (sebutan Maroko dalam Bahasa Arab) itu sangat
mengagumi Sultan Mahmud Malik Al-Zahir penguasa Samudera Pasai saat itu.
”Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat
mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat
ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat,
sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan
rakyatnya,” kisah Ibnu Batutah.
Ia juga melihat Samudera Pasai
saat itu menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Menurut
Ibnu Batutah, penguasa Samudera Pasai itu memiliki ghirah (semangat)
belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama. Dia
juga mencatat, pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan
menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan. Selama
berpetualang mengelilingi dunia dan menjejakkan kakinya di 44 negara,
dalam kitabnya yang berjudul
Tuhfat al-Nazhar itu, Ibnu Batutah menuturkan telah bertemu dengan tujuh raja yang memiliki kelebihan yang luar biasa.
Ketujuh
raja yang dikagumi Ibnu Batutah itu antara lain; raja Iraq yang
dinilainya berbudi bahasa, raja Hindustani yang disebutnya sangat ramah,
raja Yaman yang dianggapnya berakhlak mulia, raja Turki dikaguminya
karena gagah perkasa, raja Romawi yang sangat pemaaf, raja Melayu Malik
Al-Zahir yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, serta
raja Turkistan.
Ibnu Batutah sempat mengunjungi pedalaman Sumatra
yang kala itu masih dihuni masyarakat non-Muslim. Di situ juga Ia
menyaksikan beberapa perilaku masyarakat yang mengerikan, seperti bunuh
diri massal yang dilakukan hamba ketika pemimpinnya mati.
Setelah
berkelana dan mengembara di Samudera Pasai selama dua pekan, Ibnu
Batutah akhirnya melanjutkan perjalannnya menuju Negeri Tirai Bambu
Cina. Catatan perjalanan Ibnu Batutah itu menggambarkan pada abad
pertengahan, peradaban telah tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara.
Berkat
petualangan singkat Ibnu Batutah ini, kini Bangsa Indonesia sangat
dikenal di mata masyarakat Maroko, sebagai bangsa yang ramah, santun,
toleran dan cinta terhadap agama Islam yang moderat. Hal itu juga diakui
oleh para ulama Maroko, “Masyarakat muslim Indonesia sangat terpuji
akhlaknya, mereka memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap agama”
pengakuan Dr Idris Hanafi, Dosen pakar Hadits beberapa waktu lalu saat
menyampaikan kuliah studi Islam di Univ. Imam Nafie’, Tanger-Maroko.
Begitu
juga tabiat masyarakat Maroko, yang terkenal dengan sikapnya yang
sangat ramah dalam menghormati tamu, mereka menganggap tamu itu
benar-benar seperti raja. Hal ini tentunya merupakan ciri khas orang
Maroko dan sebagai aplikasi dari sebuah Hadits Rasul Saw.,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya, yaitu jaizahnya.” Para sahabat bertanya:
“Apakah
jaizahnya tamu itu, ya Rasulullah?” Beliau S.a.w. bersabda: “Yaitu pada
siang hari dan malamnya. Menjamu tamu yang disunnahkan secara muakkad
atau sungguh-sungguh ialah selama tiga hari. Apabila lebih dari waktu
sekian lamanya itu, maka hal itu adalah sebagai sedekah padanya.”
(Muttafaqun ‘Alaih).
Diabadikan di Dunia
Nama
besar dan kehebatan Ibnu Batutah dalam menjelajahi dunia di abad
pertengahan itu, hingga kini tetap dikenang. Bukan hanya umat Islam saja
yang mengakui kehebatannya, Barat pun mengagumi sosok Ibnu Battuta. Tak
heran, karya-karyanya disimpan Barat.
Sebagai bentuk
penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union (IAU)
Perancis mengabadikan Ibnu Batutah menjadi nama salah satu kawah bulan.
Kawah Ibnu Batutah itu terletak di Barat daya kawah Lindenbergh dan
Timur laut kawah bulan terkenal Goclenius. Di sekitar kawah Ibnu Batutah
tersebar beberapa formasi kawah hantu. Kawah Ibnu Batutah berbentuk
bundar dan simetris. Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battuta terbilang
luas. Diameter kawah itu mencapai 11 kilometer. Dasar kawah bagian
dalamnya terbilang gelap, segelap luarnya. Kawah Ibnu Batutah awalnya
bernama Goclenius A. Namun, IAU kemudian memberinya nama Ibnu Batutah.
Selain
dijadikan nama kawah di bulan, Ibnu Batutah juga diabadikan dan
dikenang masyarakat Dubai lewat sebuah mall atau pusat perbelanjaan
bernama Ibnu Batutah Mall. Di sepanjang koridor mall itu dipajangkan
hasil penelitian dan penemuan Ibnu Batutah.
Sementara di kampung
halamannya sendiri, Tanger-Maroko Ibnu Batutah sangat terkenal. Di
dekat Stadion Tanger terdapat bentuk Globe kecil yang menandai kediaman
Ibnu Batutah yang kecil. Terdapat juga di Hotel Ibn Battouta di Jalan
(Rue) Magellan, dibagian bawah perbukitan ada burger Ibn Battouta dan
Cafè Ibn Battouta. Ferry yang menghubungkan Spanyol dengan Maroko
menyeberangi Selat Gibraltar juga bernama M.V. Ibn Battouta. Begitu juga
bandara kota Tanger bernama Ibn Battouta. Meski petualangan dan
pengembaraannya telah berlalu sembilan abad silam, namun kebesaran dan
kehebatannya hingga kini tetap dikenang dunia. (Dikutip dari berbagi
sumber, termasuk buku ”
Rihlah Ibnu Batutoh”)
Petualangan Ibn Batutah sang pengembara
dari timur bahkan pernah sekilas di bahas dalam film NINJA ASSASSIN,
dimana dikatakan bahwa Ibn Batutah pernah singgah di pemukiman Klan
Ozunu yang terkenal sebagai ninja pembunuh bayaran paling sadis yang
pernah ada.
Source :
www.nu.or.id ,
wikipedia indonesia